Geliat Kesehatan Tradisional dari Kali Kabur


Mengembangkan program yang bukan primadona, seperti halnya program pelayanan kesehatan tradisional, memerlukan ketekunan dan keuletan ekstra. Itulah yang Winarti dapati ketika melakukan bimbingan teknis ke Puskesmas Manimeri Kabupaten Teluk Bintuni. Puskesmas yang penulis mekarkan dari Puskesmas Bintuni, saat penulis menjadi Kepala Puskesmas Bintuni di tahun 1996-1999, telah berkembang menjadi Puskesmas yang memilik Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM) Pengembangan pelayanan kesehatan tradisional. Hal baik yang ada di sana perlu diekspos. Winarti menuliskannya untuk para pembaca.

-DoVic 170719-


Menghilang, bukan berarti tak meninggalkan jejak. Bisa jadi “menghilang” hanya untuk mengerjakan sesuatu tanpa harus diekspos. Pernyataan ini mungkin tepat diberikan kepada dua orang Tenaga Kesehatan Tradisional (nakestrad) dari Puskesmas Manimeri, Kabupaten Teluk Bintuni.

Bagaimana tidak, hampir tidak pernah mendengar kabar dari keduanya, baik laporan tentang pelayanan akupresur yang diberikan di Puskesmas maupun hanya sekedar kabar bahwa keduanya pernah mensosialisasikan ilmu tentang pemanfaatan TOGA (Taman Obat Keluarga) di masyarakat.

Dan pada saat menghadiri kegiatan Sosialisasi Pelayanan Kesehatan Tradisional Tingkat Puskesmas se-Kabupaten Teluk Bintuni yang diselenggarakan pada tanggal 15-16 Juli 2019, terkuaklah fakta yang dijumpai di lapangan. Bahwa mereka berdua selama ini ternyata diam-diam membuat sesuatu yang luar biasa (klik Agustina Loisa Rumbauri: Tanaman Obatku Berbuah Manis).

Membentuk tiga belas Kelompok Asuhan Mandiri TOGA dan membuat kompetisi yang diikuti oleh ketiga belas kelompok yang telah dibentuk. Dan akan dilakukan penilaian pada bulan Agustus mendatang dalam rangka memeriahkan Hari Ulang Tahun kemerdekaan bangsa ini.

Dari bincang-bincang dengan Nurhidayat Bugis, Amd.Kep dan Daniel Mada, S.Kep., diperoleh informasi bahwa mereka berdua menginisiasi untuk membuat lomba ini, setelah sebelumnya mendata para penyehat tradisional yang ada di wilayah kerja Puskesmas Manimeri.

Terdapat tiga belas penyehat tradisional (hattra) dari dua belas kampung yang merupakan wilayah kerja Puskesmas Manimeri. Para hattra tersebut diajak untuk membentuk Kelompok Asuhan Mandiri TOGA. Selanjutnya, kepada mereka diberikan bibit beberapa jenis tanaman obat untuk ditanam, dipelihara dan ditata, sehingga bisa diperlombakan.

Dari penuturan Nurhidayat Bugis diketahui bahwa kegiatan ini didanai dengan Bantuan Operasional Kegiatan (BOK) Puskesmas Manimeri, mulai dari pembelian bibit, hingga pengadaan hadiah dan baju kaos yang akan diberikan kepada para hattra.

Selain itu, pelayanan dalam gedung pun tetap diberikan. Meski ada beberapa kendala, namun tak menyurutkan semangat mereka untuk tetap mengaplikasikan ilmu yang pernah mereka dapat saat mengikuti pelatihan beberapa tahun lalu.

Nurhidayat Bugis memperagakan pelayanan akupresur saat kunjungan lapangan.

Dengan adanya kegiatan Sosialisasi Pelayanan Kesehatan Tradisional Tingkat Puskesmas se-Kabupaten Teluk Bintuni ini, memberikan harapan baru dalam pengembangan Pelayanan Kesehatan Tradisional di daerah ini. Akan banyak lagi para hattra yang bisa terdata, bukan hanya di wilayah kerja Puskesmas Manimeri, tapi seluruh Puskesmas yang tersebar hingga ke pelosok terluar. Lalu dibina oleh para pengelola program di Puskesmas,  sehingga potensi kesehatan tradisional semakin berkembang dan bisa dirasakan manfaatnya oleh seluruh masyarakat yang mendiami Kali Kabur, Teluk Dua Belas Tanjung, julukan dari Kabupaten Teluk Bintuni.

Peserta Pertemuan Sosialisasi Pelayanan Kesehatan Tradisional berfoto bersama Kepala Kampung dan kader Asuhan Mandiri TOGA Kampung Sigemerai.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *