Mengais Harapan Dari Kais

Winarti, salah satu anggota Tim Pelayanan Kesehatan Berbasis Masyarakat (PKBM) Kabupaten Sorong Selatan, mengisahkan pengalamannya. Sorong Selatan menjadi salah satu dari tujuh Kabupaten yang menjadi lokus sasaran PKBM 2019 yang didanai APBD Provinsi Papua Barat. Menyehatkan masyarakat, termasuk menyehatkan anak-anak di daerah pedalaman Papua Barat yang menjadi penyambung harapan kita adalah tujuannya. Selamat Hari Anak Nasional 23 Juli 2019.

-DoVic 270719-


Kampung Kais yang terletak di Distrik Kais, Kabupaten Sorong Selatan merupakan salah satu lokus sasaran Pelayanan Kesehatan Berbasis Masyarakat (PKBM) Dinas Kesehatan Provinsi Papua Barat tahun 2019. Dan untuk menjangkau tempat ini butuh perjuangan yang luar biasa.

Perjuangan menuju Kampung Kais

Medannya cukup ekstrim, sehingga beberapa kali kendaraan double gardan yang kami tumpangi harus terbenam dalam kubangan lumpur setinggi lutut orang dewasa. Namun, hal itu tak membuat kami gentar untuk terus melanjutkan perjalanan menuju ke Kampung penghasil sagu ini.

Hari pertama pelayanan kami, dibanjiri masyarakat yang datang berobat dari semua kalangan, mulai dari bayi, balita, anak-anak, dewasa sampai usia lanjut. Pelayanan pun berlangsung sampai malam.

Masyarakat yang menanti pelayanan kesehatan Tim PKBM.

Karena tim kami sudah lelah, pelayanan akan dilanjutkan esok hari. Kami pun kembali ke Puskesmas dengan berjalan kaki sejauh kurang lebih dua kilometer dengan menyusuri jalan yang gelap dan licin, karena gerimis sejak kami tiba siang tadi.  Sambil melewati perkampungan, sempat saya berbincang dengan Agnes, peserta Nusantara Sehat Individu yang ditempatkan di Puskesmas Kais. Dia menuturkan kalau di dua kampung ini yakni Kais dan Kapuri hanya tersedia sembilan jamban umum dan tidak semuanya berfungsi dengan baik. Hanya sekitar tiga atau empat saja yang masih layak digunakan oleh warga. Sehingga kebanyakan warga setempat Buang Air Besar (BAB) di semak-semak dan di sungai. Bisa dibayangkan jumlah penduduk dua kampung ini sekitar delapan ratus jiwa dan hanya ditunjang dengan sembilan jamban umum.

Parahnya lagi, di sini tidak ada sumber air bersih. Para tenaga kesehatan di Puskesmas dan warga hanya mengandalkan air hujan sebagai sumber air bersih untuk mandi, mencuci dan memasak. Meskipun, untuk keperluan masak, mereka terkadang membeli air bersih dan air mineral, jika mereka ke Teminabuan. Namun, itupun jumlahnya sangat terbatas.

Jika hujan tak kunjung turun, satu-satunya alternatif  adalah menggunakan air Sungai Kais yang warnanya coklat untuk keperluan mandi dan mencuci. Belum lagi sumber listrik di sini hanya mengandalkan solar cell, Dan jangan ditanya lagi dengan jaringan telepon seluler untuk komunikasi. Meski di Puskesmas telah dilengkapi dengan sarana wi-fi untuk mengakses informasi dari luar, namun itupun jangkauannya sangat terbatas.

Membudayakan PHBS dan CTPS kepada generasi muda Papua.

Hari ke dua kami di kampung ini, pelayanan kembali kami lanjut kan di pagi hari. Selain memberikan pelayanan kesehatan bagi warga yang belum sempat datang memeriksakan kesehatannya hari sebelumnya, kami pun mengunjungi Sekolah Dasar Bahtera Injil Kais untuk memberikan penyuluhan tentang Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dan Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS). Tak lupa juga kami tetap menggaungkan yel-yel “Kebas Malaria” untuk lima puluh tujuh siswa yang hadir pagi itu.

Di pundak merekalah harapan masa depan bangsa dipikulkan. Cerdas dan sehatkan mereka!

Dari penuturan salah satu guru yang ikut mendampingi kami, diketahui bahwa di sekolah ini ada kurang lebih dua ratus siswa dan hanya ada dua guru kontrak. Namun, hal itu tak menyurutkan semangat para siswa untuk datang dan belajar setiap jam sekolah.

Dua hari berada di Kais memiliki kisah tersendiri. Tempat yang terletak cukup jauh dari ibu kota Kabupaten Sorong Selatan dengan kondisi jalan untuk mengakses tempat ini yang terbilang cukup ekstrim, hendaklah mendapatkan perhatian dari pihak pihak terkait, mulai dari pembangunan fasilitas umum seperti jamban umum, agar warga tidak membuang hajat di sembarang tempat. Hal ini akan sangat berdampak buruk bagi status kesehatan masyarakat sekitar. Juga penyediaan sumber air bersih pun harus menjadi perhatian serius bagi pemerintah agar masyarakat tidak lagi menggunakan air sungai untuk keperluan sehari hari.

Dari seratus sembilan puluh tiga warga yang kami periksa, kasus terbanyak yang kami temui adalah Infeksi Saluran Pernafasan Atas (ISPA), Suspect Tuberculosis dan beberapa penyakit kulit seperti Frambusia dan Dermatitis. Kehadiran penyakit ini tentu saja karena banyak faktor. Namun, yang paling berperan adalah kebersihan diri dan kebersihan lingkungan. Begitupun untuk anak usia sekolah, PHBS serta CTPS haruslah selalu diajarkan kepada mereka untuk mencegah terjadinya beberapa penyakit kulit dan juga kecacingan. Tongkat estafet bangsa ini berada di tangan mereka. Mereka harus sehat agar bisa bertumbuh menjadi generasi yang cerdas.

Salam sehat dari Tim PKBM.

Apresiasi luar biasa diberikan kepada rekan-rekan sejawat mulai dari Kepala Puskesmas Kais dan seluruh jajarannya. Hal ini disampaikan oleh Ketua Tim PKBM kami dr. Irianto Ramandey, M.Kes. Menurut dr. Ramandey, rekan-rekan di Puskesmas Kais sangat luar biasa, bisa bertahan dan mengabdi di tempat ini. Semua demi peningkatan derajat kesehatan masyarakat dan pemerataan pelayanan kesehatan di kawasan terpencil dan sangat terpencil.

 

 

 

 

 

 

 

print

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *