Drone-kah Salah Satu Solusinya?

Jajaran kesehatan di Kabupaten Teluk Wondama, khususnya, dan Provinsi Papua Barat, umumnya, baru saja berduka atas meninggalnya Patra Marinna Jauhari dalam tugas sebagai seorang perawat. Dedikasi kerja dan semangat pengabdiannya patut dijadikan teladan untuk tenaga kesehatan lainnya.

Menyimak pemberitaan di beberapa media ditengarai terdapat situasi di mana ada hambatan jarak, komunikasi dan transportasi yang menjadikan yang bersangkutan mendapatkan obat dan perawatan kesehatan secara tepat waktu. Jarak antara tempat tugas dan fasilitas pelayanan kesehatan yang memadai yang sangat jauh menjadi hambatan pertama. Jarak yang jauh tersebut jika harus ditempuh dengan berjalan kaki melewati jalur dengan tingkat kesulitan yang tinggi membutuhkan waktu tiga sampai empat hari. Moda transportasi lainnya adalah helikopter, namun berbiaya mahal dan tidak selalu tersedia setiap saat. Ketiadaan peralatan dan jalur komunikasi lebih mempersulit keadaan yang ada.

Inilah karakteristik remote area yang juga berdampak pada akses dan mutu pelayanan kesehatan (klik Bertugas di Remote Area: Mengatasi Jurang). Kondisi semacam ini tidak menjadi monopoli wilayah Kabupaten Teluk Wondama. Tiga perempat Puskesmas di Provinsi Papua Barat terkategori Puskesmas kawasan Terpencil dan Sangat Terpencil. Artinya, 75% Puskesmas di Provinsi Papua Barat setidaknya memiliki satu wilayah kerja dengan tingkat kesulitan seperti digambarkan di atas.

Tentulah upaya-upaya sinergis lintas sektor diperlukan untuk membuka keterisolasian daerah sangat diperlukan dengan segera. Tersedianya sarana dan prasarana transportasi serta tersedianya peralatan dan jalur komunikasi yang terjangkau akan mengurai kerumitan permasalahan pelayanan kesehatan pula. Di luar upaya-upaya konvensional tersebut, bisakah penggunaan teknologi terkini digunakan untuk mengatasi kendala-kendala tertentu, walau bersifat temporer? Seharusnya bisa.

Penggunaan teknologi informatika dalam dunia kedokteran melalui telemedicine adalah salah satu contohnya. Untuk hal ini, Provinsi Papua Barat telah mengujicobanya dan akan memperluas lokus implementasinya (klik UGM Teliti Telemedicine di Papua Barat). Adakah peluang pemanfaatan teknologi canggih lainnya? Apa misalnya? Drone!

Ada setidaknya tiga jenis drone yang dikenal saat ini, yaitu: (1) fixed wing drone, (2) chopper drone dan (3) hybrid drone. “Fixed wing drone membutuhkan landasan memanjang untuk mendarat. Namun, dua jenis lainnya relatif bisa mendarat vertikal, sehingga lebih sesuai dengan karakteristik beberapa daerah di pedalaman,” kata Maria. Drone bisa dipakai untuk memindahkan obat, vaksin atau dokumen antar tempat. Tentunya dalam kapasitas dan volume terbatas. “Drone memiliki daya jangkau dan daya tempuh yang cukup, tergantung kapasitas baterainya. Teknologi baterai bisa dikembangkan, agar drone memiliki daya jangkau dan daya tempuh yang cukup jauh,” jawab Maria atas pertanyaan penulis.

Sumber: maritim.go.id.

Situs maritim.go.id pada tanggal 19 September 2018 memberitakan bahwa Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Luhut B. Pandjaitan memimpin rapat mengenai penggunaan drone logistik obat-obatan di daerah terpencil bersama World Bank. Bahkan perusahaan-perusahaan asing telah mencoba menawarkan jasa sewa pesawat tanpa awak tersebut kepada pemerintah Indonesia seperti diberitakan oleh http://www.republika.co.id tanggal 15 Agustus 2018.

Melihat kebutuhan saat ini di Papua Barat yang masih menyisakan daerah-daerah terisolir, maka kajian penggunaan drone dalam pelayanan kesehatan perlu didorong dan dipercepat. Siapa tahu ini menjadi salah satu solusinya, walau mungkin bersifat temporer. Siapa mau mengkaji dan menginisiasi penerapannya di Papua Barat?


-DoVic 250619-

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *