" Selamat Datang Di Website Resmi Dinas Kesehatan Provinsi Papua Barat. "
blog-img

Behind The Scenes Upaya Penanggulangan Pandemi Covid19 di Bintuni

 Edlon Manurung  |   04/06/2020  |   Info Terkini  |   135 Baca

Bila kisah di bawah ini tidak dituliskan oleh penulis, maka niscaya sedikit orang yang tahu, apa yang terjadi di belakang panggung. Bila kisah ini tidak di-share oleh penulis kepada admin dan admin tidak posting, maka niscaya sedikit orang pula yang terinspirasi. Oleh karena itu, jangan segan menulis dan membagikannya. Silakan, pembaca menyimak tulisan dr. Eka Widrian Suradji, PhD, Direktur RSUD Kabupaten Teluk Bintuni.


Beberapa hari yang lalu, sekitar jam sembilan malam saya mendapat telepon dari pak Dandim Kabupaten Teluk Bintuni. Beliau membuka pembicaraan dengan, “Dokter, ini Bintuni ada bikin heboh.” Saya sempat berpikir ini ada masalah lagikah? Ternyata yang beliau maksud dengan bikin heboh adalah rekan-rekan TNI dari Kabupaten tetangga menanyakan bagaimana Bintuni bisa menaikkan jumlah pasien Covid-19 yang sembuh mencapai tiga puluh tiga orang atau sekitar 75% dari semua kasus positif Covid-19. Sekaligus menanyakan resep atau obat dari keberhasilan tersebut. Saya dengan senang hati berbagi dengan pak Dandim tentang hal-hal yang bisa menunjang percepatan kesembuhan para penderita Covid-19.

Cerita ini merupakan gambaran bagaimana sejak Gugus Tugas Covid-19 Kabupaten Teluk Bintuni yang dibentuk pada 20 Maret 2020 memungkinkan saya untuk bisa menjalin komunikasi yang intens dengan para pemimpin di Bintuni. Hampir setiap hari tanpa mengenal waktu bisa berkomunikasi dengan pak Dandim, Kapolres, Sekda dan para Kepala Dinas maupun pemimpin lain yang terlibat dalam penanganan Covid-19. Mulai dari hal yang rumit dan berdampak luas, seperti penolakan masyarakat untuk lokasi karantina di Distrik Manimeri, bagaimana melakukan pemeriksaan rapid test untuk Pasar Sentral hingga hal ringan seperti bagaimana menjawab pertanyaan masyarakat kenapa pasien kena Covid-19 tidak mati, menjadi hal yang sehari-hari didiskusikan, dikomunikasikan dan dicarikan jalan keluarnya.

Komunikasi ini yang memungkinkan kedekatan terbangun dan kerja sama bisa terjadi. Posko penjagaan akses adalah satu hasil dari kerja sama tersebut. Kolaborasi antara TNI, POLRI, Satuan Polisi Pamong Praja, Dinas Perhubungan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah dengan tenaga kesehatan dari Puskesmas dan Dinas Kesehatan merupakan upaya yang sangat kompleks memerlukan usaha, sumber daya ekstra dan tentunya kerja sama. Contoh yang lebih luar biasa adalah saat Bintuni akan mendatangkan mesin RT-PCR dan kelengkapannya, sementara akses penerbangan sangat sulit dan jalur antar Kabupaten diperketat (klik PCR Covid-19: Akankah Teluk Bintuni Menjadi Yang Pertama?). Diskusi bersama Gugus Tugas dengan pak Dandim dan pak Kapolres melahirkan ide untuk memohon bantuan TNI-AU melalui Kodam untuk bisa mengangkut logistik tersebut. Diskusi tersebut di follow up dan dalam dua minggu mesin RT-PCR, alat-alat pendukung, kit, reagen dan Alat Pelindung Diri (APD) sejumlah total hamper empat ton bisa tiba di Manokwari. Kemudian dengan kebersamaan pak Ketua Gugus Tugas, pak Kapolres dan pak Dandim bersama mengawal hingga alat RT-PCR pertama yang ada di Provinsi Papua Barat itu bisa sampai dan melakukan pemeriksaan Covid-19 untuk Kabupaten Teluk Bintuni. Betapa luar biasa bahwa para pemimpin ini mau bersama-sama bersusah payah melobi dan melakukan perjalanan agar masyarakat bisa terlindungi dari Covid-19.

Cerita lain adalah dengan para anggota DPRD. Walau sebelum Covid-19 mulai menyebar di Papua Barat komunikasi saya dengan para anggota dewan sudah terbangun, namun dengan munculnya Covid-19 frekuensi dan kualitas kontak menjadi tinggi. Diawali dengan kontak menimbulkan diskusi yang serius tentang banyak hal terkait masyarakat Teluk Bintuni dan Covid-19. Tidak hanya berhenti pada diskusi, tapi berlanjut pada saling bantu dan berbagi terutama dalam pencarian APD dan pengangkutan logistik dari Jakarta, Surabaya, Makassar dan bahkan Jayapura. Semua ini menunjukkan betapa para anggota dewan memang sangat mencintai rakyat dan mau turun tangan berepot ria untuk memecahkan masalah demi masalah. Kerelaan para anggota dewan untuk mengeluarkan waktu, tenaga bahkan dana pribadi menjadi suatu inspirasi buat saya pribadi untuk berjuang lebih keras lagi.

Era pandemi Covid-19 ini memang luar biasa. Masalah, kendala, konflik menjadi menu sehari-hari, bahkan setiap jam bisa muncul masalah baru. Namun, dari semua pengalaman yang luar bisa menantang dan berat ini, saya belajar bahwa kerjasama yang baik akan memampukan kita untuk melewati masalah demi masalah. Sehingga waktu saya ditanyakan apa kunci Bintuni dalam memerangi Covid-19, jawaban yang keluar di benak saya “Kerja sama dan kerelaan mengabdi” (klik Hal Yang Hilang Dan Yang Tidak Boleh Hilang)./ -DoVic 040620-

 




footer_logo
footer_logo
footer_logo