" Selamat Datang Di Website Resmi Dinas Kesehatan Provinsi Papua Barat. "
blog-img

Bukan Dokter Internsip Yang Biasa Biasa

 Dian Triwiyono  |   21/05/2020  |   Info Terkini  |   198 Baca

Kemarin, tanggal 20 Mei 2020, bertepatan dengan peringatan Hari Kebangkitan Nasional, dilaksanakan hari ke-dua pembekalan bagi peserta Program Internsip Dokter Indonesia (PIDI) Angkatan II Tahun 2020 Provinsi Papua Barat. Tidak seperti sebelumnya (klik 18 Dokter Lulusan Uncen Menjalani Internsip di Papua Barat), pembekalan kali ini dilakukan secara daring (klik Melalui Zoom Turut Perangi Covid-19). Ya, pandemi Covid-19 menjadikan cara seperti ini pilihan yang paling masuk akal. Walaupun tidak dihadiri Ketua Komite Internsip Dokter Indonesia (KIDI) Provinsi Papua Barat, dr. Yodi Kairupan, Sp.B., karena sedang menjalani perawatan medis di luar Manokwari, namun proses pembekalan tetap berlangsung formal.

Bertempat di Ruang Video Conference (Vicon) Fasilitas Karantina Penyakit Infeksi Emerging (PIE) Provinsi Papua Barat (klik Mengenal Fasilitas Karantina Penyakit Infeksi Emerging Provinsi Papua Barat), pembekalan dihadiri oleh beberapa pejabat Dinas Kesehatan Provinsi Papua Barat, KIDI Provinsi Papua Barat, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Wilayah Provinsi Papua Barat, dokter pendamping wahana dan staf Sekretariat PIDI Provinsi Papua Barat serta beberapa pejabat Kementerian Kesehatan dan KIDI Pusat. Pembekalan kepada delapan dokter internsip kali ini juga bernuansakan pandemi Covid-19. Ini tercermin dari beberapa materi yang diberikan.

PIDI Angkatan II Tahun 2020 ini menempatkan lima orang dokter internsip di RSUD Sele Be Solu Kota Sorong dan tiga orang dokter di RSAL dr. Azhar Zahir Manokwari. Selama enam bulan mereka akan menjalani masa internsip di Rumah Sakit, dilanjutkan enam bulan di Puskesmas. Semoga mereka menjalani masa internsip dengan kesungguhan, sehingga kelak dapat menjadi dokter yang benar-benar mandiri dan mahir, bukan hanya sekedar melewati masa internsip sebagai pemenuhan prasyarat belaka.

Bersamaan waktunya dengan pembekalan peserta PIDI kemarin, penulis mendapat share informasi tentang sebuah Virtual Seminar Covid-19 “Prospect Doctor in A More Complex World” yang dilaksanakan juga pada 20 Mei 2020. Selain topiknya menarik, mata penulis juga tertarik pada salah satu foto dan nama penanggap yang penulis kenal. Dia salah satu alumni PIDI Kabupaten Sorong beberapa tahun lalu, dr. Alvinsyah Pramono. Penulis masih mengingatnya, karena selama mempersiapkan dan setelah menghasilkan mini project kelompoknya, dr. Alvin berkomunikasi dengan penulis (klik Miniproject yang Maxi). Antusiasme dr. Alvin mencuri perhatian penulis sebagai Komite Pembinaan dan Pengawasan dalam KIDI Provinsi Papua Barat. “Dia hebat. Masih sangat muda, tapi dedikasinya luar biasa,” kata dr. Lenny Hae, Kepala Puskesmas Klasaman Kota Sorong. Sementara itu, dr. Titus Taba, Sp.THT-KL juga mengatakan, “Dokter yang luar biasa. Semua mampu dikerjakan dengan baik. Waktu internsip di RSUD Kabupaten Sorong, dia mantap membuat case report dan mempresentasikan dengan sangat baik di forum Pertemuan Ilmiah Tahunan Otologi di Makassar”.

Tahun lalu, dr. Alvin menghubungi penulis untuk mengucapkan Selamat Paskah. Dia mengabarkan juga bahwa dia sedang mendalami kanker di Cancer Institute of New Jersey dan Rutgers The State University of New Jersey, Amerika Serikat. Saat ini, dr. Alvin juga sebagai Ketua Satuan Tugas Covid-19, Persatuan Mahasiswa Indonesia Seluruh Amerika Serikat (PERMIAS). Sebuah organisasi yang didirikan tanggal 24 Desember 1961 di Washington DC ini, menyatukan para mahasiswa Indonesia di Amerika Serikat. Penulis turut bangga mendengar kabar itu.


“Di Indonesia tempat kita di sana, tempat berjuang kita. Di sana harus kita tunjukkan keberanian, keperwiraan dan kesatriaan kita. Kecintaan kita pada nusa dan bangsa” (dr. Sutomo)


Walaupun berhalangan hadir dalam pembekalan kemarin, penulis ingin menyampaikan pesan kepada delapan dokter peserta PIDI Angkatan II Tahun 2020 Provinsi Papua Barat, “Walaupun setiap dokter dianugerahi Tuhan kapasitas dan talenta yang berbeda-beda, namun optimalkan kapasitas dan talenta itu sampai pada level puncaknya. Jangan sia-siakan kesempatan, termasuk menyia-nyiakan masa internsip di Papua Barat. Saya yakin kesungguhan, keuletan dan rasa nasionalisme dr. Alvin Pramono sebagai dokter bangkit, terasah dan teruji ketika dia menjalani internsip di Kabupaten Sorong. Testimoni sejawat senior membuktikan itu. Barangsiapa yang bekerja di Tanah ini dalam iman dan dengar-dengaran, akan berjalan dari tanda heran satu kepada tanda heran yang lain. Jangan jadi dokter internsip yang biasa-biasa.” (klik Bertugas di Remote Area: Mengatasi Jurang)/ -DoVic 210520-




footer_logo
footer_logo
footer_logo