" Selamat Datang Di Website Resmi Dinas Kesehatan Provinsi Papua Barat. "
blog-img

Hal Yang Hilang Dan Yang Tidak Boleh Hilang

 Herman Lawalata  |   28/04/2020  |   Info Terkini  |   256 Baca

Tulisan berikut ini dikirimkan oleh Direktur RSUD Teluk Bintuni. Tulisan yang bukan hanya berisi perenungan penulis, tetapi juga tulisan yang menggugah jati diri kita sebagai manusia, khususnya insan kesehatan.


andemi Covid-19 ini membuat hidup kita berubah. Banyak kebiasaan dan keseharian kita yang hilang. Hal yang biasa saat kita bertemu, dengan rekan kerja kita bersalaman, dengan handai taulan kita berpelukan, dengan kekasih kita berciuman. Dengan menyebarnya Covid-19 kedekatan fisik yang seperti ini sekarang hilang, paling tidak untuk sementara waktu.


“Jangan biarkan jarak sosial (physical distancing) berubah menjadi sebuah pengucilan”


Staf-staf di RSUD Teluk Bintuni memiliki tempat favorit di sebuah warung kecil di seberang RSUD, di mana mereka sarapan, makan siang, ngopi dan sambil ngobrol bergosip ria. Sejak beberapa hari ini tempat yang biasa penuh canda tawa dan kerumunan sahabat itu menjadi senyap.

Keseharian tugas kita juga menjadi beda, briefing rutin di pagi hari sebelum bekerja dan siang hari sebelum pulang ke rumah masing-masing juga hilang. Perdebatan, saling singgung, berbagi kabar dan masalah antar staf, kepala seksi, kepala bidang dan direktur tidak lagi menjadi santapan harian kita.

Bila dulu setiap hari bisa lebih seratus lima puluh pasien berobat di poliklinik, sekarang di era Covid-19 hanya beberapa pasien yang terlihat berobat di RSUD.

Dan ini hanya sebagian dari banyak hal yang hilang dari sendi sendi kehidupan kita, baik dalam keluarga di rumah maupun keluarga besar RSUD Teluk Bintuni.

Namun, dari semua perubahan dan kehilangan ini ada hal-hal yang tidak boleh hilang. Covid-19 membuat setiap orang harus membuat jarak satu dan yang lain, tapi hendaklah jarak fisik ini tidak menjauhkan kedekatan kita sebagai insan kesehatan. Biar satu meter yang dikatakan sebagai jarak aman ini tidak menghilangkan ikatan kita sebagai sesama pengabdi kesehatan. Partisi-partisi akrilik yang mengamankan kita dari paparan pasien tidak menjauhkan empati kita kepada sesama yang membutuhkan keahlian kita untuk kesehatan mereka.

Masker-masker yang saat ini selalu menjaga wajah kita dari infeksi corona, semoga tidak menghilangkan senyum kita dalam berinteraksi antar rekan kesehatan dan saudara-saudara kita yang sakit. Tangan kita yang sekarang tertutup dengan sarung tangan, agar tidak hilang kehangatannya dalam menyentuh pasien, dan satu milimeter latex ini tidak menghilangkan kelembutan pelayanan kesehatan kita.

Waspada akan Covid-19 telah mendorong kita untuk melakukan berbagai langkah untuk melindungi diri, tapi jangan biarkan waspada berubah menjadi ketakutan yang sangat, sehingga hilanglah semangat melayani dan akal sehat kita.

Satu setengah bulan terakhir ini, merupakan saat-saat sulit untuk semua orang. Apalagi para insan kesehatan yang berjuang mempertaruhkan nyawa diri dan orang-orang terdekat untuk bisa melayani setiap sesama yang sakit di bawah ancaman infeksi Covid-19 di setiap sentuhan dan tarikan nafas kita. Tapi, mari jangan ijinkan Covid-19 untuk menghilangkan kemanusiaan kita, pengabdian kita dan kasih kita pada sesama.

Yang tak boleh hilang adalah janji kita pada diri untuk mengabdikan hidup untuk melayani orang-orang sakit. Mari, kita jalani dan pada akhirnya menang atas Covid-19 sebagai manusia yang masih memiliki nurani dan martabat dalam pelayanan kita.

Selamat berjuang Saudara dan Saudariku. Bersama, torang pasti bisa.


“Ijinkan akal sehat, pengharapan dan kemanusiaan kita yang mengalahkan pandemi Covid-19 ini, agar kita bisa melewati pandemi ini sebagai manusia yang utuh” / -DoVic 280420-




footer_logo
footer_logo
footer_logo