" Selamat Datang Di Website Resmi Dinas Kesehatan Provinsi Papua Barat. "
blog-img

Mewacanakan Kembali Radio Medik Roger

 Dian Triwiyono  |   16/12/2020  |   Kesehatan  |   119 Baca

Monitor! … Dicopy! … Roger! … Kata-kata tersebut terlintas kembali dalam benak penulis. Ingatan penulis kembali terbawa ke masa 18-20 tahun yang lalu, ketika penulis menjadi Kepala Puskesmas Prafi SP IV Kabupaten Manokwari. Kata-kata tersebut acapkali penulis teriakkan di depan handie talkie yang penulis bawa, entah itu di pagi hari, siang hari, malam hari atau bahkan tengah malam sekalipun. 24/7. Kala itu, selain stetoskop yang menggantung di leher penulis, satu unit handie talkie juga seringkali menggantung di ikat pinggang atau berada dalam genggaman penulis, entah di dalam gedung Puskesmas, di kampung ketika ada pelayanan luar gedung, di mobil ambulans semisal bila sedang merujuk pasien atau di rumah di kala istirahat. Ya, di kala itu Puskesmas SP IV Prafi dengan dukungan Unicef sedang mengembangkan Safe Motherhood Programme, yang salah satunya melalui radio medik menggunakan radio amatir.

Kata-kata tersebut terlintas kembali, selepas penulis dihubungi via WhatsApp oleh seseorang dengan kode nomor yang bukan +62 dan di waktu yang tidak lazim, tengah malam. Orang itu memperkenalkan diri sebagai seseorang dari Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Washington DC. Kok bisa seseorang dari Amerika menghubungi penulis? Selintas teringat kembali suatu kisah yang melibatkan negara lain yang pernah penulis alami (klik Papua Barat Harus Belajar Dari Kepedulian Dua Dokter New Zealand). Apakah dia salah menghubungi orang? Mestinya tidak! Karena dalam WhatsApp-nya, nama penulis disebut dengan benar. Rupanya dia mendapatkan nomor penulis dari dr. Alvinsyah Pramono selaku Ketua PERMIAS (Persatuan Mahasiswa Indonesia Seluruh Amerika Serikat). Nama dr. Alvinsyah sudah pernah disebut-sebut dalam beberapa tulisan sebelumnya di blog ini (klik Bukan Dokter Internsip Yang Biasa-BiasaMiniproject yang Maxi).

Orang itu menyampaikan maksudnya ingin mengundang Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua Barat sebagai narasumber dalam sebuah webinar yang akan diselenggarakan PERMIAS dan IASA (Indonesian American Scholars Association). Webinar itu bertemakan Radio Amatir Sebagai Alternatif Media Pembangunan Pendidikan dan Kesehatan di Tanah Papua. Webinar yang direncanakan akan dilaksanakan pada 21 Desember 2020 juga rencana akan menghadirkan Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Investasi serta Menteri Riset dan Teknologi sebagai keynote speakers.

Kembali ke masa itu. Kala itu, sarana transportasi dan komunikasi di wilayah kerja Puskesmas Prafi SP IV tidak selancar sekarang, sehingga seringkali para bidan di desa mengalami kesulitan menangani kasus-kasus persalinan yang sulit. Melalui handie talkie yang ada di setiap Pondok Persalinan Desa (Polindes), para bidan di desa dapat mengkonsultasikannya kepada penulis selaku dokter Puskesmas. Penulis dapat memberikan instruksi penanganan yang harus dilakukan oleh para bidan di desa. Atau, kalau kasus harus dirujuk ke Puskesmas, penulis dapat memberikan advis tindakan pra rujukan yang harus dikerjakan para bidan di desa. Pengembangan radio medik yang melibatkan organisasi radio amatir setempat itu juga berguna untuk memberikan dukungan psikologis kepada para tenaga kesehatan di kampung-kampung (frontliners) dan juga memperlancar pelaporan.

Ketika penulis menanyakan tujuan dan manfaatnya kepada Abdul Kadar, SKM, M.Kes, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Manokwari saat itu mengatakan, “Pengembangan radio medik di Kabupaten Manokwari dimaksudkan untuk menjamin sistem rujukan jarak jauh, dari Polindes ke Puskesmas dan dari Puskesmas ke Rumah Sakit Daerah. Manfaat radio medik tersebut di antaranya dapat mempercepat konsul dari bidan di Polindes dengan dokter Puskesmas dan dokter Puskesmas dengan dokter spesialis di Rumah Sakit. Radio medik juga dapat meningkatkan rasa percaya diri bagi tenaga kesehatan yang bertugas di remote area. Pengembangan model radio medik di Puskesmas Prafi SP IV saat itu merupakan suatu upaya untuk menurunkan Angka Kematian Ibu dan Angka Kematian Bayi bagi masyarakat di remote area.”

Ketika PERMIAS dan IASA melalui webinar ini bemaksud membuka wacana pelaksanaan pendidikan dan kesehatan melalui radio amatir serta mengajak berbagai pemangku kepentingan untuk mulai merumuskan radio amatir sebagai alternatif media yang efektif untuk pelaksanaan pendidikan dan kesehatan di Tanah Papua, sesungguhnya ini bukanlah hal yang baru. Alternatif ini patut dipikirkan kembali utilisasinya, apalagi pandemi Covid-19 mendorong penggunaan komunikasi secara virtual (klik Melalui Zoom Turut Perangi Covid-19UGM Teliti Telemedicine di Papua Barat). “Pengembangan kembali sistem radio medik akan membantu mempermudah upaya peningkatan pengetahuan dan skill tenaga kesehatan (bidan, perawat, tenaga laboratorium, tenaga farmasi dan tenaga kesehatan lainnya) terutama yang bertugas di remote area (klik Bertugas di Remote Area: Mengatasi Jurang).

-DoVic 151220-




footer_logo
footer_logo
footer_logo

2020 © copyright by Dinas Kesehatan Provinsi Papua Barat. All rights reserved.