" Selamat Datang Di Website Resmi Dinas Kesehatan Provinsi Papua Barat. "
blog-img

PAPUA BARAT HARUS BELAJAR DARI KEPEDULIAN DUA DOKTER NEW ZEALAND

 Ronny Risamassu  |   30/11/2020  |   Kesehatan  |   484 Baca

Nama New Zealand sudah pernah disebut-sebut dalam blog ini. Tepatnya oleh Agus Sumule dalam tulisannya terkait pembelajaran penanganan pandemi Covid-19 yang harus diadopsi oleh Provinsi Papua Barat (klik Agus Sumule: Jika Covid-19 Kalah di New Zealand, Di Papua Juga Bisa!). Nama New Zealand akan disebut sekali lagi dalam tulisan ini berkaitan dengan kepedulian dua dokternya terhadap nasib seorang anak yang ditemuinya di salah satu pulau di Kabupaten Raja Ampat. Kisah tentang anak itu telah dituliskan oleh dr. Sri Riyanti Windesi, SpA dalam posting-an beberapa hari lalu (klik Dia Yang Bernama Thomas Mambrasar). 

Tepat enam tahun yang lalu, 30 November 2014, di bus yang mengantar penumpang dari gedung terminal ke pesawat di bandara Sultan Hasanuddin Makassar, penulis bertemu kedua dokter itu. Mereka adalah Tom Mulholland, MD, seorang dokter umum pada Departemen Emergency di Rumah Sakit Auckland City, yang kedua adalah Caroline Haart, MD seorang dokter spesialis anak di New Zealand. Peristiwa itu adalah perjumpaan yang tak terduga, walaupun kami sebelumnya sudah berkomunikasi via email. Kedua dokter itu berada dalam satu pesawat dengan penulis menuju Sorong, sedangkan penulis melanjutkan ke Manokwari via Sorong.

Apa yang membuat keduanya datang ke Sorong sekali lagi? Seorang anak bernama Thomas Mambrasar asal Kampung Yenwaupnor, Kabupaten Raja Ampat yang mereka jumpai dalam perjalanan beberapa bulan sebelumnya. Ya, seorang anak yang diduga mengalami congenital heart disease disertai anemia berat, gizi buruk dan tuberkulosis (klik Mace, Pace.,.Kurang Darah Itu Bahaya!,Upaya Pengentasan Gizi Buruk, NS Kais Darat Gelar Demo Masak Pangan LokalTBC:Kau Kukejar, Kau KutangkapTBC: Kisahmu dan Kini ).

Kondisi awal Thomas ketika dirawat di RSUD Kabupaten Raja Ampat.

Sekembalinya ke New Zealand, mereka bertekad untuk menindaklanjuti penanganan penyakit Thomas dengan rencana merujuk Thomas ke sebuah Rumah Sakit di Jakarta. Mereka juga menggagas pengumpulan dana (fundraising) secara online untuk membantu Thomas dan keluarganya. Dalam tujuan itulah, kemudian Kedutaan Besar Republik Indonesia di Wellington melayangkan berita yang ditujukan kepada Menteri Luar Negeri, Menteri Kesehatan dan Gubernur Papua Barat.

Saving Thomas, sebuah penggalangan dana secara online yang digagas oleh dr. Tom untuk membantu Thomas dan keluarganya.

Walaupun pada awalnya niat tersebut sempat dicurigai ada maksud lain, namun pada akhirnya misi kedua dokter New Zealand tersebut menjadi misi kemanusiaan bersama dengan Pemerintah Provinsi Papua Barat, Pemerintah Kabupaten Raja Ampat dan RS Anak dan Bunda (RSAB) Harapan Kita Jakarta. Kehadiran dua dokter tersebut ke Sorong pada tanggal 30 November 2014 adalah dalam rangka menyiapkan rujukan Thomas ke Jakarta.

dr. Sri Riyanti Windesi, SpA bersama Thomas dan keluarganya. Ingin memperlihatkan kondisi yang sudah lebih baik setelah dirawat beberapa hari di RSUD Kabupaten Raja Ampat.

“Nice to see Thomas looking happier. Thanks to all those who have helped us help him and his family thus far,” kata dr. Tom dalam website-nya.

Sebelumnya, dr. Sri Riyanti Windesi, SpA, dokter spesialis anak pada RSUD Kabupaten Raja Ampat telah melakukan upaya perbaikan kondisi umum Thomas. Selanjutnya, Thomas dirawat lebih lanjut di RSUD Kabupaten Sorong oleh dr. Anthonius Ipsan, Sp.A. Setelah menjalani perawatan lebih dari dua minggu bersama ibunya yang akan mendampinginya ke Jakarta, rencana Thomas dirujuk ke Jakarta tiba-tiba batal akibat alasan tertentu. Sehingga skenario tindak lanjut penanganan penyakit Thomas harus diubah.

Para dokter tergabung dalam misi kemanusiaan bersama. Dari kiri ke kanan: dr. Tom, dr. Caroline, dr. Sri Riyanti, dr. Sjarif Rohimi, dr. Victor Eka, dr. Engelbert Wader dan alm. dr. Tomy Yong.

Pada akhirnya, sebuah rencana disepakati. Seorang dokter spesialis jantung anak dari RSAB Harapan Kita Jakarta, dr. Sjarif Rohimi, Sp.AK akan didatangkan ke RSUD Kabupaten Raja Ampat dengan biaya dari Dinas Kesehatan Provinsi Papua Barat. dr. Tom dan dr. Caroline akan datang dari New Zealand dengan membawa electrocardiography pinjaman FujiFilm Sonosite New Zealand. Rencana tersebut terwujud pada tanggal 23-24 April 2015.

Thomas memperhatikan pemeriksaan electrocardiography yang membuktikan dirinya tidak ada congenital heart disease.

Setelah dilakukan pemeriksaan dengan electrocardiography oleh dr. Sjarif dan diasistensi oleh dr. Caroline, tidak terbukti adanya congenital heart disease, walaupun Thomas memang ada beberapa penyakit lainnya. Sehingga advis dr. Sjarif adalah tetap merawat Thomas di Raja Ampat sambil memastikan jenis anemianya dengan memeriksakan sampel darahnya di Jakarta. Thomas dan ayahnya akhirnya dapat tersenyum gembira.

Thomas dan ayahnya tersenyum bersama dr. Feny Mayana Paisey, M.Si, Magdalena Sapari dan penulis.

Bersamaan dengan kehadiran dr. Sjarif ke Raja Ampat, juga bergabung tim RSAB Harapan Kita Jakarta yang terdiri atas dokter spesialis respirologi anak, dokter spesialis endokrinologi anak, dokter spesialis gastrohepatologi anak, dokter spesialis hematologi onkologi anak, dokter nutrisi dan penyakit metabolik anak dan dokter spesialis neonatologi. Mereka memberikan pelayanan kesehatan juga di RSUD Kabupaten Raja Ampat. Empat puluh kasus telah dikonsultasikan, enam belas di antaranya adalah kasus kardiologi yang dua di antaranya harus dirujuk.

Hari itu, bukan hanya Thomas dan ayahnya yang tersenyum, tapi sejumlah anak dan orang tuanya juga dapat tersenyum, karena mendapat sentuhan para dokter subspesialis anak yang tidak ada di Raja Ampat atau di Papua Barat. Di akhir misi kemanusiaan ini, penulis sempat bertanya kepada Tuhan dalam hati, jika memang Thomas tidak memiliki penyakit yang mengharuskannya dirujuk ke Jakarta, mengapa liku-liku peristiwa ini harus ada? Penulis mendapatkan jawabannya, Thomas, yang dari pulau terpencil itu, dipakai oleh Tuhan Sang Pencipta untuk menjadi berkat bagi anak-anak lainnya. Mungkin Thomas tidak menyadarinya.

“Bagaimana kabarmu sekarang, Thomas?” tanya penulis dalam hati. Melalui dr. Riyanti, penulis mengetahui kabar terkini dari bocah itu. Senang rasanya mendengar kabar itu dan melihat foto-fotomu kini.

Itu semua bermula dari kepedulian dua dokter New Zealand? Bagaimana kepedulian kita terhadap masalah-masalah kesehatan di sekeliling kita?

 

-DoVic 301120-




footer_logo
footer_logo
footer_logo

2020 © copyright by Dinas Kesehatan Provinsi Papua Barat. All rights reserved.