" Selamat Datang Di Website Resmi Dinas Kesehatan Provinsi Papua Barat. "
blog-img

TB PARU MASALAH RINTANGAN PELUANG DAN HARAPAN

 Ronny Risamassu  |   30/03/2022  |   Kesehatan  |   499 Baca

TB PARU (MASALAH,RINTANGAN, PELUANG DAN HARAPAN)

Tanggal 25 Maret 2022, diperingati sebagai Hari Tuberkulosis Sedunia. Pada tanggal yang sama, layanan kami menerima hasil pemeriksaan Tes Cepat Molekuler dahak  dari orang dewasa hasil investigasi kontak TB dari seorang penderita TB Sensitif Obat, dengan hasil MTB DETECED LOW, Rif Resistance DETECTED. Kebetulan saat didatangi, kontak tersebut sedang menderita batuk 2 minggu dan belum ke layanan kesehatan. Sesuai petunjuk teknis, maka dikirim sampel dahak kedua dan hasilnya tetap sama.

Bakteri TB yang ditemukan tanggal 2 Maret 1882 oleh Robert Koch ( 1,3 abad yang lalu) masih menjadi masalah yang belum terselesaikan. Penyakit yang menyebar melalui droplet, membutuhkan pengobatan yang cukup lama (memerlukan kepatuhan}, efek samping obat yang juga mengganggu pengobatan, terutama menyerang pada golongan sosial ekonomi rendah, dapat menulari seluruh golongan umur dan sekarang diperparah oleh masalah gizi buruk, diabetes mellitus, HIV dan juga timbulnya resitensi terhadap obat standar.

Penyakit Tuberkulosis (TBC) di Indonesia menempati peringkat ketiga setelah India dan Cina dengan jumlah kasus 824.000 dan kematian 93.000 pertahun atau setara dengan 11 kematian per jam. Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM) DR. drh. Didik Budijanto M. Kes mengatakan dari estimasi 824.000 pasien TBC di Indonesia, baru 49 % yang ditemukan dan diobati sehingga terdapat 500.000-an yang belum diobati dan berisiko menjadi sumber penularan.

Tema Hari Tuberkulosis Sedunia tahun 2022 adalah “Invest to End TB, Save Lives” mengajak semua orang untuk berpartisipasi  dalam eliminasi TB untuk menemukan, mengobati dan menyelamatkan banyak nyawa. Peringatan setiap tanggal 25 Maret untuk mengingatkan kita akan Epidemi Global Tuberkulosis. Indonesia menargetkan Eliminasi TB pada tahun 2030, tersisa 8 tahun lagi. Dibutuhkan gerak cepat dan keterpaduan pemerintah pusat, pemerintah daerah, tenaga teknis dan masyarakat  untuk mewujudkan target tersebut.

Rintangan dalam melakukan penanganan TB masih terasa, stigma TB masih ada, keengganan kontak untuk melalukan pemeriksaan dahak dan minum obat profilaksis, masih melakukan pengobatan tradisional  dan jarak yang jauh dari layanan. Dari aspek logistic, keterbatasan OAT, PP INH, tuberculin test dan peralatan TCM yang belum merata di seluruh wilayah kecamatan. Dari aspek sarana, masih banyak layanan yang bangunan dan infrastrukturnya belum siap untuk melakukan pemeriksaan TCM dan layanan untuk TB Resisten yang telah dialihkan ke puskesmas.  Dari aspek SDM, masih perlu ditingkatkan kemampuan manajemen program untuk perencanaan dan layanan, kemampuan teknis layanan dan juga “sense of crisis”  tenaga kesehatan tentang bahaya TBC. Dari segi pembiayaan juga harus menjadi perhatian sehingga bisa membiayai kegiatan yang sudah direncanakan .

Peluang untuk mencapai eliminasi semakin terbuka di era digital saat ini, pelaporan terpadu SITB, dibentuknya Whats App Group untuk komunikasi antar layanan dan pengelola, terdistribusinya alat Tes Cepat Molekular di setiap kabupaten sangat membantu untuk notifikasi kasus, temuan kasus resisten obat, komunikasi antar layanan untuk memberi informasi dan konsultasi.  Perluasan skrining TB pada kasus stunting, HIV, DM selain investigasi kontak serumah. Termasuk juga pencarian kasus secara aktif di kegiatan UKM seperti posyandu, UKS, posbindu, posyandu lansia.  Distribusi OAT untuk sensitive dan resisten obat telah tersedia di kabupaten. Juga telah dibuatkan aplikasi SOBAT TB yang berisi informasi tentang TB dan skrining mandiri TB Paru dan layanan yang tersedia. Perluasan pemberian Terapi Pencegahan TB  pada semua golongan umur. Bantuan sosial dari Kementerian Sosial bagi penderita TB untuk menjadi Peserta Keluarga Harapan, tersedianya dana bantuan transportasi bagi penderita TB Resisten Obat. Dan yang terbaru tahun ini adalah akan dilakukan skrining TB dengan X Ray Artificial Intelligence dengan hasil diagnosis yang lebih cepat dan lebih efisien, yang alatnya sedang dalam pengadaan Kementerian Kesehatan.

Harapan untuk mencapai Eliminasi TB 2030 bisa diwujudkan jika kita semua bahu membahu untuk menemukan kasus, patuh pada protocol pengobatan, memberikan Terapi Pencegahan TB pada semua golongan umur, empati kepada penderita TB sehingga tidak putus berobat dan tentunya manajemen program yang handal disetiap level serta didukung dengan keberpihakan anggaran.

 

Penulis: Beny Bernard Kwa/Praktisi Kesehatan di Fakfak




footer_logo
footer_logo
footer_logo

2020 © copyright by Dinas Kesehatan Provinsi Papua Barat. All rights reserved.